BeRCeRMiN.

Interaksi antara manusia ibarat sedang bercermin. Apabila dihadapan cermin kita tersenyum, maka bayangan Kita pada cermin tersebut akan terlihat tersenyum pula. Begitu juga sebaliknya, manakala kita bercermin dalam keadaan marah, maka bayangan yang muncul akan terlihat marah juga. Jadi, apapun yang kita lakukan dihadapan cermin, maka hasilnya akan ada kesesuaian antara kondisi kita dengan bayangan.

Disinilah berlaku pepetah : “Anda akan memetik apa yang Anda tanam” artinya apapun benih yang kita taburkan, maka itulah yang akan kita tuai. Seperti itulah kita dalam bermu’amalah. Jika kita memperlakukan orang lain sarat dengan kasih sayang yang melahirkan pengertian, mau memahami, merasakan perasaan orang, tumbuh perhatian, menghargai dengan tulus, toleransi dan lain sebagainya. Maka orang lain akan melakukan hal yang sama terhadap kita. Sebab kasih sayang yang kita tebarkan kepada orang lain adalah cerminan dari jiwa kita. Semakin hidup kasih sayang dalam sanubari kita, maka akan semakin indah orang lain bercermin terhadap diri kita. Orang lain akan melihat jernihnya pikiran kita, beningnya hati kita, dan halusnya jiwa kita. Secara otomatis kata-kata yang terluncur dari mulut kita enak di dengar.Tindak tanduk kita begitu teduh dipandang oleh mata. Wajah kita bercahaya.Senyum selalu kita dihadiahkan kepada setiap orang yang kita jumpai. Kasih sayang ini membentuk pusaran medan magnet. Memilikilingkaran pengaruh cukup dahsyat. Sehingga siapapun yang terkena gelombangnya akan melakukan sikap yang sama.Artinya kasih sayang itu akan berbalas.

Hanya saja terkadang kasih sayang yang kita berikan kepada orang lain, tidak mampu ditangkap oleh orang-orang yang hatinya kering dari air kasih sayang. Jiwanya gersang. Sebaik apapun kasih sayang yang kita berikan kepadanya, justru yang akan kita terima kebalikannya. Bagaikan kita mengelus dengan kasih sayang terhadap bisul seseorang.Yang ia rasakan adalah keperihan, penderitaan, dan kesakitan.Walaupun pada hakikat orang itu memiliki kasih sayang dilubuk hatinya. Cuma ia tidak mampu untuk mengungkapkannya saja.

Dan sebaliknya, bila yang kita berikan kepada orang lain adalah sebuah Kebencian yang ditampakkan dalam bentuk cacian, makian, hinaan, omelan,gerutuan, cemoohan, penipuan, penganiayaan, dan lain sebagainya.Maka orang lainpun akan membalasnya tidak jauh dari apa yang kita berikan itu.Naifnya kita terkadang selalu menyalahkan sikap orang lain tanpa pernah memikirkan bahwa sikap orang lain itu berawal dari sikap kita. Kita berharap terlalu banyak dari orang lain. Kita menginginkan orang lain supaya memahami kita, sedangkan kita sendiri tidak mau memahami orang lain. Dengan kata lain kita senatiasa menyalahkan cermin. Bukan Diri kita sendiri.

Makanya janganlah sekali-kali kita belajar melukai hati orang lain, supaya hati kita tidak pernah luka. Bila kita tidak pernah melukai orang lain, maka orang lain tidak akan punya alasan untuk melukai hati kita, sehingga kita selalu damai dibumi. Hidup penuh dengan persahabatan. Harmonis tanpa harus ada perpecahan.
Untuk melangkah ke arah sana, kita harus belajar memahami orang lain dan berlatih untuk peka terhadap perasaan orang lain. Kalau kita mampu merasakan sakit hati orang lain, maka kita tidak akan pernah melakukan sebuah kebencian.Dan untuk memahami orang lain tidak bisa kita lakukan tanpa kita memahami diri sendiri, atau dengan kata lain
bercermin kepada diri sendiri. Kemampuan untuk bercermin kepada diri sendiri hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mampu memahami dan menyadari Kasih sayang Tuhan. Dan hati yang dapat meresapi kasih sayang Tuhan, pasti dapat juga memahami perasaan dirinya sendiri dan orang lain.

Orang yang tidak mampu bercermin kepada dirinya sendiri, tidak akan mampu menengok kesalahan dalam dirinya sendiri. Ia selalu beranggapan bahwa letak kesalahan pada orang lain. Ia juga sering menyalahkan semua orang, kecuali kepada dirinya sendiri, dan tidak pernah mengakui bahwa dirinyalah yang sebenarnya salah. Ia juga hanya memikirkan diri sendiri secara berlebihan alias egois dan tidak pernah berbuat yang bermanfa’at bagi orang lain. Kerjanya hanya membuat orang lain kecewa.
Dan lebih parah lagi karena orang yang egois ini selalu memendam kebencian dan tidak pernah mencurahkan kasih sayangnya kepada orang lain, maka ia tidak pernah merasa dikasihi oleh orang lain.

Oleh sebab itu, wahai para sahabatku, marilah kita bercermin kepada diri kita sendiri. Jangan terlalu banyak menyalahkan orang lain. Kalau kita masih menganggap akar masalah berada pada orang lain, maka selamanya kita tidak akan keluar dari masalah itu. Salahkanlah diri sendiri. Tanyakan kepada hati nurani kita masing-masing, “Apa yang sudah aku berikan kepada orang lain ? Sudah betulkah sikapku terhadap orang lain ? Mengapa orang lain membenciku ?” Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang harus kita jawab dengan hati yang jujur. Kita baru bisa mendekati kasih sayang, kalau hati kita terbuka dan kita mau mengakui kesalahan-kesalahan yang telah kita lakoni di masa lalu.




mYWiseStories_

~ by MaIDeN on May 21, 2005.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: